Bahasa Indonesia version, click here

Dwiki Dharmawan is one of Indonesian musician that have frequently performed in international musical events. With his band Krakatau, Dwiki has presented his works at The Lincoln Center Out of Door Festival 2004 - New York, Chicago Cultural Center, Hot Summer Jazz – St. Paul, Krannert Center -Illinois , Toronto Jazz Festival , Vancouver Jazz Festival ,Sziget Festival 2003 in Hungary, Midem Cannes France, North Sea Jazz Festival 2005 in the Netherlands, the Montreaux Jazz Festival 2005 in Switzerland as well as in numerous other performances in China, Japan, Australia, Spain, Bulgaria, Romania, Serbia-Montenegro, the Czech Republic, Republic of Slovakia, Venezuela, Malaysia, Singapore and many more.

Krakatau’s unique music has never failed to capture the attention and appreciation of its international audience, thanks to the band’s ability to harmoniously combine the gamelan and other ethnic Indonesian music with jazz, and producing remarkable musical achievements. An article in the American Journal of World Music stated that Krakatau has made a significant contribution to the music world.

Born in Bandung in 1966, Dwiki began learning classical piano at the tender age of six. At thirteen years old, he expanded his interest to include jazz piano under the tutelage of Elfa Secioria. From an early age, he has displayed extraordinary talent, creating a number of instrumental works. His career as a musician really took off when he formed Krakatau in 1985 together with Pra B. Dharma, Donny Suhendra and Budhy Haryono. In that year, Dwiki also won the Best Keyboard Player award during the Yamaha Light Music Contest 1985 in Tokyo, Japan.

After releasing five pop-fusion albums with Krakatau, towards the end of 1990, he began to explore Indonesia’s traditional music, beginning with that of his homeland, the Sundanese music. The ‘Mystical Mist’ and ‘Magical Match’ albums were among the first works that reflected a distinct ethnic influence. Professor Anderson Sutton in the Journal of World Music wrote:”The music of Krakatau has the ability to sundanize jazz or pop music and to jazz or modernize Sundanese music at the same time.” For Dwiki, Indonesia’s rich culture and traditions are an inexhaustible source of inspiration and creativity. Spurred on by his desire to explore Indonesia’s music tradition, he turned his attention further to the music from other parts of the country, Acehnese, Melayu, Javanese, Balinese and those from the eastern regions of the country. Even stronger was the desire to see Indonesian traditional music given its proper recognition and appreciation even at an international level.

As composer, Dwiki has also teamed up with well-known Indonesian director, Garin Nugroho, arranging music for the Garin’s films, among them ‘Cinta Dalam Sepotong Roti’ (winning the Citra Trophy for Best Music Arrangement in FFI 1991), ‘Rembulan di Ujung Dahan’ and ‘Rindu Kami PadaMu’. In year 2000, Dwiki won the Grand Prize Winner in the Asia Song Festival 2000 in the Philippines. In 2005, he was co-director of a spectacular musical event, the Megalithicum-Quantum held in Jakarta and Bali.

In addition to producing nine albums with Krakatau and with numerous well-known local artists, Dwiki Dharmawan has also produced a solo album entitled ‘Nuansa’ in 2002 under the Sony Music Entertainment label. This project was realized with the support from international musician such as Mike Stern, Lincoln Goiness, Richie Morales, Neil Stubenhaus, Ricky Lawson and Mike Thompson from the US, as well as Australian musicians, among others Steve Hunter, David Jones and Guy Strazullo.

This year, Dwiki has just launched his two newest albums with Krakatau, the ‘Two Worlds’ album, a successful collaboration between Krakatau and foreign artists during its North America and European Tour including collaborative work with Howard Levy, and the ‘Rhythm of Reformation’ album featuring percussion pieces by Krakatau. He is currently working on his next solo album due for release in April 2007.

His involvement in the Farabi Music Institute reflects his deep interest in Indonesia’s music development. A music school popular among the younger among the younger generation, Farabi provides classes in jazz, classical and even traditional music.He is also actively involved in various organizations concerning the arts and is a member of the music committee in the Jakarta Arts Council .

English version, click here

Dwiki Dharmawan adalah musisi Indonesia yang telah banyak tampil diberbagai ajang musik internasional. Bersama grupnya “Krakatau” Dwiki telah menampilkan karya-karya musiknya diantaranya di Lincoln Center Out of Door Festival 2004 – New York, Chicago Cultural Center, Hot Summer Jazz – St Paul, University of District of Columbia (UDC) di Washington DC, Olscamp Hall Bowling Green State University – Ohio, Krannert Center University of Illinois at Urbana, Colorado Springs, Toronto Jazz Festival dan Vancouver Jazz Festival – Kanada, juga pada berbagai konser di benua Eropa dan Asia seperti Sziget Festival 2003 – Hongaria, Midem-Cannes 2000 Perancis, North Sea Jazz Festival 2005 – Belanda, Montreux Jazz Festival 2005 – Swiss serta puluhan penampilan lainnya di China, Jepang, Australia, Spanyol, Bulgaria, Romania, Serbia – Montenegro, Republik Ceko, Republik Slovakia, Venezuela, Malaysia, Singapura dan lain-lain. Musik Krakatau cukup mendapat perhatian secara internasional karena berhasil memadukan gamelan serta musik-musik tradisi Indonesia lainnya dengan Jazz dengan pencapaian musikal yang pas. Jurnal Worlds of Music yang diterbitkan di Amerika Serikat menulis Krakatau sebagai bagian penting dari khazanah World Music.

Dwiki dilahirkan di Bandung tahun 1966, belajar piano klasik pada usia 6 tahun. Pada usia 13 tahun belajar piano jazz kepada Elfa Secioria. Selain itu sejak kecil telah sering menciptakan karya musik instrumental. Kariernya dimulai tahun 1985 saat membentuk grup musik ‘Krakatau’ bersama Pra B Dharma, Donny Suhendra dan Budhy Haryono dimana kemudian Dwiki meraih penghargaan ‘The Best Keyboard Player’ pada Yamaha Light Music Contest 1985 di Tokyo, Jepang. Setelah merilis 5 album yang lebih bernuansa Pop-Fusion bersama Krakatau, kegelisahannya dipenghujung tahun 1990 membuatnya menekuni berbagai musik tradisi Indonesia, dimulai dengan eksplorasinya dengan musik ‘sunda’, tanah kelahirannya dan kemudian merilis album ‘Mystical Mist serta ‘Magical Match’. Profesor Anderson Sutton dalam jurnal World of Music menulis : ‘The music of krakatau has ability to Sundanize jazz or pop music and to jazz or modernize Sundanese music at the same time’. Bagi Dwiki tradisi Indonesia yang sangat beragam adalah kekayaan dan sumber inspirasi yang tiada habisnya. Selanjutnya hasrat Dwiki untuk bereksplorasi dengan berbagai kekayaan tradisi mulai dari Aceh, Melayu, Jawa, Bali, dan musik-musik Indonesia Timur tak terbendung. Namun yang terpenting juga bagaimana karya musik tersebut bisa mengangkat derajat musik tradisi Indonesia serta memperkenalkannya dengan skala internasional.

Sebagai komposer, Dwiki juga telah bekerjasama dengan sutradara terkemuka Indonesia Garin Nugroho menjadi penata musik film-film karya garin, diantaranya ‘Cinta Dalam Sepotong Roti’ (Meraih Piala Citra Penata Musik Terbaik FFI 1991), ‘Rembulan di Ujung Dahan’, serta ‘Rindu Kami PadaMu’. Tahun 2000 Dwiki mendapat Grand Prize Winner pada Asia Song Festival 2000 di Philipina. Pada tahun 2005 yang lalu ia menjadi co – music director untuk pagelaran musik spektakular Megalithicum Quantum di Jakarta dan Bali.

Selain sudah menghasilkan 9 album dengan Krakatau serta puluhan artis papan atas Indonesia, Dwiki Dharmawan juga merilis album solo ‘Nuansa’ tahun 2002 dibawah label Sony Music Entertainment didukung oleh musisi kaliber dunia seperti Mike Stern, Lincoln Goiness, Richie Morales, Neil Stubenhaus, Ricky Lawson dan Mike Thompson dari Amerika Serikat serta beberapa musisi Australia seperti Steve Hunter, David Jones dan Guy Strazullo. Tahun 2006 ini Dwiki baru saja merilis 2 buah album terbarunya bersama Krakatau yaitu album ‘Two Worlds” yang merupakan album hasil kerja kolaboratif Krakatau dengan musisi mancanegara sepanjang North America dan European Tour 2004-2005 dan album “Rhythm of Reformation” yang merupakan percussion pieces by krakatau. Dwiki juga sedang menyiapkan Album solo terbarunya ‘yang akan beredar pertengahan tahun 2006.

Kepeduliannya terhadap kemajuan musik di Indonesia diwujudkannya dengan mengembangkan Lembaga Pendidikan Musik Farabi, sebuah sekolah musik yang begitu banyak diminati kawula muda dan memberikan pelajaran musik jazz, klasik maupun tradisional. Dwiki juga aktif pada organisasi seni dengan menjadi anggota komite musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta menjadi Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Artis, Penata Musik dan Pencipta Lagu Indonesia (PAPPRI). Pasca Tsunami di Aceh dan Nias, awal tahun 2005 yang lalu Dwiki menggagas konser amal ‘Jazz for Aceh’ yang melibatkan ratusan musisi jazz Indonesia.